Antam Rapat Danantara IBC Fokus Hilirisasi Nikel Bukan Proyek Titan

Rabu, 14 Januari 2026 | 11:38:30 WIB
Antam Rapat Danantara IBC Fokus Hilirisasi Nikel Bukan Proyek Titan

JAKARTA - Pembahasan masa depan industri nikel nasional kembali mencuri perhatian publik setelah beredarnya informasi mengenai pertemuan antara PT Aneka Tambang Tbk. (Antam), BPI Danantara, dan Indonesia Battery Corporation (IBC). 

Isu yang berkembang menyebutkan rapat tersebut berkaitan dengan Proyek Titan, namun Antam menegaskan sudut pandang yang lebih luas. Pertemuan itu disebut sebagai bagian dari koordinasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat fondasi industri nikel dan baterai nasional.

Antam menjelaskan bahwa komunikasi intensif antar institusi memang diperlukan di tengah percepatan agenda hilirisasi. Dengan keterlibatan berbagai pihak, diskusi strategis menjadi sarana menyamakan arah kebijakan dan peluang bisnis ke depan tanpa harus selalu mengaitkannya pada satu proyek tertentu.

Koordinasi Strategis Antar Pemangku Kepentingan

Corporate Secretary Division Head Antam Wisnu Danandi Haryanto menyampaikan bahwa pertemuan dengan Danantara dan IBC merupakan forum koordinasi yang bersifat strategis. Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai isu umum yang relevan dengan penguatan ekosistem industri nikel dan baterai di Indonesia.

“Pertemuan yang dimaksud merupakan bagian dari koordinasi dan diskusi strategis antar pemangku kepentingan dalam rangka penguatan sinergi dan pengembangan ekosistem industri, khususnya yang sejalan dengan agenda hilirisasi nasional,” kata Wisnu ketika dihubungi, Rabu (14/1/2026).

Ia menekankan bahwa diskusi semacam ini lazim dilakukan untuk menyelaraskan kepentingan BUMN, lembaga investasi, dan entitas pengembangan industri. Fokusnya adalah membangun kerangka besar pengembangan sektor, bukan semata-mata membahas satu proyek tertentu secara spesifik.

Belum Ada Kepastian Bahas Proyek Tertentu

Terkait spekulasi bahwa pertemuan tersebut membahas Proyek Titan, Wisnu tidak memberikan penegasan. Ia hanya menyampaikan bahwa proyek-proyek besar di sektor baterai kendaraan listrik masih berada pada tahap pembahasan internal dan koordinasi lintas sektor.

“Dalam forum tersebut, dibahas berbagai isu strategis yang bersifat umum dan lintas sektor, termasuk peluang pengembangan bisnis ke depan. Namun demikian, terkait dengan proyek atau inisiatif tertentu, termasuk ekosistem baterai, saat ini masih dalam tahap pembahasan internal dan koordinasi antar pihak terkait,” ungkap Wisnu.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Antam memilih pendekatan hati-hati dalam menyampaikan perkembangan proyek strategis. Perusahaan menilai transparansi tetap penting, namun kepastian baru dapat disampaikan setelah seluruh aspek teknis dan komersial matang.

Rapat Terbatas Bahas Hilirisasi Nikel

Sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan telah menggelar rapat terbatas bersama Direktur Utama Antam Untung Budiharto dan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif. Rapat tersebut membahas penguatan hilirisasi nikel sebagai agenda utama.

Dalam keterangannya, Rosan menjelaskan bahwa diskusi mencakup peran anak usaha Antam, PT Nusa Karya Arindo (NKA), sebagai pemegang izin usaha pertambangan nikel di sisi hulu. Selain itu, dibahas pula konektivitas hulu-hilir sebagai fondasi pengembangan ekosistem industri baterai nasional.

“Kami membahas penguatan hilirisasi nikel, mulai dari peran PT Nusa Karya Arindo [NKA] sebagai pemegang IUP di sisi hulu, hingga konektivitas hulu-hilir sebagai fondasi ekosistem industri baterai nasional,” tulis Rosan dalam akun Instagram resminya, dikutip Rabu (14/1/2026).

Dorongan Investasi Jangka Panjang

Rosan menegaskan bahwa Danantara siap mendorong investasi jangka panjang di sektor nikel dan baterai. Investasi tersebut diarahkan untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam Indonesia dapat dioptimalkan di dalam negeri.

“Melalui Danantara, kami mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat dan prinsip keberlanjutan, agar nilai strategis sumber daya Indonesia tumbuh dan tetap berada di dalam negeri,” tegas dia.

Pernyataan ini menegaskan posisi Danantara sebagai katalis investasi strategis, khususnya dalam proyek-proyek yang mendukung transformasi industri dan penguatan rantai pasok nasional.

Gambaran Proyek Titan dan Tantangannya

Proyek Titan sendiri dirancang sebagai ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir. Cakupannya meliputi tambang nikel, smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL), produksi prekursor dan katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.

Namun hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Kementerian ESDM sebelumnya menyebutkan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu. Sementara di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC masih berada di kisaran 30%.

Pemerintah tengah mengupayakan negosiasi peningkatan kepemilikan BUMN di lini hilir melalui partisipasi Danantara. Meski groundbreaking proyek sempat ditargetkan akhir 2025, hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaannya.

Keterlibatan di Proyek Dragon

Di sisi lain, Antam dan IBC juga terlibat dalam proyek ekosistem baterai lain, yakni Proyek Dragon yang digarap bersama konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL). Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada semester I-2026.

Investasi CATL dilakukan melalui Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL). IBC bersama konsorsium tersebut telah menandatangani sejumlah usaha patungan dari hulu hingga hilir, mencakup tambang, pengolahan, perakitan sel baterai, hingga daur ulang.

Di sisi hulu, Antam memegang 51% saham di PT Sumber Daya Arindo yang mengelola tambang nikel. Pada fasilitas RKEF dan kawasan industri melalui PT Feni Haltim, Antam memiliki porsi 40%. Untuk pabrik HPAL, Antam memegang 30% saham.

Sementara itu, IBC memegang 30% saham pada proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai, serta 40% saham di usaha patungan daur ulang baterai. Seluruh struktur ini menunjukkan upaya membangun ekosistem baterai nasional secara bertahap dan terintegrasi.

Terkini

Malaysia Targetkan 4,6 Juta Turis Indonesia Tahun 2026

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:17 WIB

Maskapai Low-Cost Paling Aman Dunia 2026 Terungkap

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:14 WIB

11 Cara Efektif Menjaga Kesehatan Kuku Tetap Sehat

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:12 WIB

Tren Baju Lebaran 2026 Gamis Berompi Kini Populer

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:11 WIB