JAKARTA - Memasuki akhir bulan Ramadhan, umat Muslim mulai menyiapkan diri menunaikan kewajiban zakat fitrah.
Ibadah ini wajib bagi setiap Muslim dewasa maupun anak-anak, termasuk bayi yang baru lahir. Keluarga biasanya dibayarkan oleh kepala rumah tangga agar zakat dapat tersalurkan dengan tertib.
Kewajiban Zakat Fitrah bagi Keluarga
Setiap anggota keluarga wajib memperoleh zakat fitrah, dan tanggung jawab utama berada di pundak suami sebagai kepala keluarga. Zakat fitrah mencakup diri sendiri, istri, dan anak-anak yang belum baligh. Dalam praktiknya, kepala keluarga mengatur pembayaran agar zakat tersampaikan secara resmi kepada amil atau fakir miskin.
Namun, masalah muncul ketika suami tidak memiliki cukup uang, sementara istri memiliki penghasilan atau tabungan yang memadai. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah suami diperbolehkan menggunakan uang istri untuk membayar zakat fitrah keluarga? Hal ini menjadi penting agar ibadah tetap sah dan sesuai syariat.
Penjelasan Hukum Bayar Zakat Pakai Uang Istri
Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa secara hukum syariat, pembayaran zakat fitrah tetap berada di tangan suami. “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah bagi semua umat Muslim.
Bagi seorang suami, ia menanggung zakat dirinya, istrinya, dan anak-anaknya,” jelasnya. Meskipun demikian, penggunaan uang istri tetap diperbolehkan dengan mekanisme pemberian resmi dari istri kepada suami.
Istri bisa memberikan uang berupa hadiah, sedekah, hibah, atau pinjaman agar suami menunaikan zakat fitrah. Setelah menerima, suami kemudian menyalurkan zakat kepada amil atau fakir miskin. Dengan cara ini, ibadah tetap sah dan memenuhi syarat syariat, sekaligus menunjukkan kerjasama dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Praktik Penyaluran Zakat Fitrah
Dalam praktik sehari-hari, istri menyerahkan uangnya kepada suami untuk zakat keluarga. Suami akan membayar zakat fitrah secara resmi, menyebutkan jumlah zakat untuk dirinya, istri, dan anak-anak.
“Nanti suaminya memberikan zakat fitrah kepada fakir miskin: Ini zakat fitrah saya, ini zakat fitrah istri saya, ini zakat fitrah anak saya,” jelas UAS. Cara ini memastikan keabsahan ibadah dan keteraturan penyaluran.
Hal ini juga memberikan pemahaman bahwa kerjasama keluarga menjadi landasan pelaksanaan ibadah yang benar. Suami tetap memiliki tanggung jawab utama, sedangkan istri berperan sebagai pendukung dengan memberikan hak miliknya secara sah. Praktik ini memperkuat ikatan keluarga sekaligus menegakkan syariat dalam menunaikan zakat.
Kondisi Tidak Mampu dan Penerimaan Zakat
Selain persoalan uang istri, ada kondisi ketika seseorang awalnya tidak mampu membayar zakat. Namun menjelang Idul Fitri, ia menerima zakat dari orang lain hingga memiliki simpanan beras berlebih. UAS menjelaskan bahwa jika selama waktu wajib zakat, seseorang termasuk golongan mampu, maka ia wajib menunaikan zakat fitrah.
Rentang waktu wajib zakat fitrah sekitar 14 jam, mulai terbenamnya matahari hingga shalat Idul Fitri. Jika dalam rentang ini seseorang mampu membayar, meskipun awalnya tidak memiliki kecukupan, zakat tetap wajib dikeluarkan.
“Jika selama 14 jam ini engkau termasuk orang yang mampu wahai saudaraku, maka engkau bayar zakat fitrah. Tapi kalau dalam 14 jam ini engkau tidak mampu, engkau menerima zakat fitrah,” terang UAS.
Lebih lanjut, apabila seseorang menerima zakat dari banyak orang pada malam terakhir Ramadhan, ia menjadi golongan mampu. Maka pada pagi hari Idul Fitri, ia wajib menunaikan zakat fitrah menggunakan zakat yang diterimanya.
“Jam 6 sore engkau menerima zakat fitrah. Datang satu orang, tiga orang, lima orang mengantar zakat fitrah. Jam 12 malam engkau punya tiga goni beras. Maka besok pagi engkau membayar zakat fitrah. Begitulah, dari yang tidak mampu menjadi mampu,” pungkas UAS.
Kiat Menunaikan Zakat Fitrah Sesuai Syariat
Menunaikan zakat fitrah dengan tepat waktu dan mekanisme yang benar menjadi wujud ketaatan pada syariat. Suami bertanggung jawab atas pembayaran zakat keluarga, sementara istri dapat mendukung melalui pemberian uang secara sah.
Praktik ini memastikan zakat tersalurkan dengan benar, menguatkan hubungan keluarga, dan memberi keberkahan bagi penerima serta penunaian ibadah.
Dengan memahami hukum dan mekanisme zakat, keluarga dapat menunaikan kewajiban dengan tenang. Ibadah ini juga mengajarkan kerjasama, kepedulian, dan pengaturan keuangan keluarga. Pelaksanaan yang tepat memperkuat nilai spiritual Ramadhan dan memastikan pahala zakat fitrah diterima dengan sempurna oleh Allah SWT.